Pada jaman doeloe di daerah pedesaan pembuatan gorong-gorong/drainase untuk saluran air hujan atau cai cileuncang bahkan air limbah dari sisa-sisa dapurpun (limbah rumah tangga) tidak begitu mendapat perhatian dari masyarakat sekitarnya. Masyarakat hanya membuat parit-parit di kebun-kebun, membuat lubang (sunda: lombang) di belakang rumahnya masing-masing, dengan alasan mereka untuk tempat mengumpulkan sampah-sampah, baik sampah dari siasa-sisa dapur maupun sampah dedaunan dari pepohonan yang jatuh dari pohonnya ( sunda: kalakay), atau mungkin juga dari sisa-sisa makanan ternak yang mereka pelihara dan fungsi kedua untuk sekedar mengalirkan air hujan itu yang akhirnya akan terserap ke tanah. Bahkan air hujan atau air buangan dari limbah dapur itu dibiarkan begitu saja atau bisa dialirkan melaui sungai-sungai atau daerah rendah. Untuk mandi dan mencuci pakaian dan membuang tinjapun masyarakat hanya pergi ke sungai-sungai atau solokan yang terdekat. Keadaan ini mungkin diperkirakan antara tahun 1980 an kebelakang. Karena sungai-sungainya (Citarum) pada tahun-itu airnya masih jernih belum tercemar oleh limbah pabrik seperti sekarang ini.
Pekerjaan yang mereka laksanakan tidak disadari bahwa mereka telah membuat lubang resapan atau sumur resapan yang sederhana itu, bisa mengakibatkan air hujan dan air limbah rumah tangga itu telah diserap kedalam tanah dan tidak akan mengakibatkan banjir Cileuncang atau pencemaran lingkungan.
Namun sejalan dengan perkembangan jaman dimana lahan makin sempit, penduduk makin bertambah otomatis pemukimanpun dengan sendirinya akan bertambah, tidak akan mungkin untuk membuat lobang-lobang seperti pada jaman doeloe, karena lahannya semakin sempit oleh rumah-rumah penduduk yang semakin hari semakin bertambah belum lagi budaya masyakat yang masih membuang sampah sembarangan. Apa akibatnya? Akibatnya baik air hujan maupun air limbah rumah tanggapun tidak akan terserap kedalam tanah dan akhirnya jelas akan terjadi banjir dan pencemaran lingkungan secara menyeluruh. Hal ini jelas akan menimbulkan keresahan dimasyarakat.
Misalkan terjadi banjir akan mengakibatkan air sungai dan air laut akan meluap ke permukaan. Masyarakat akan kena dampaknya berupa kerugian moriil dan materiil akibat rumah-rumah mereka kebanjiran atau wabah penyakit akan timbul dimana-mana. Apabila dibiarkan akan terjadi kemunduran sosial dan kemunduran kehidupan masyarakat, terutama kemunduran kesehatan. Untuk menanggulangi masalah ini semua, banyak yang telah diupayakan baik oleh pemerintah maupun masyarakat untuk memperbaiki keadaan lingkungan, diantaranya dengan pengerukan sungai-sungai yang dangkal akibat erosi, membuat drainase atau gorong-gorong saluran air, dan lain-lain. Seperti halnya masyakat Kampung Cembul Desa Rancamanyar Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung yang terdiri dari 3 RW, 10 RT dan 1500 KK pada saat ini akan mengupayakan pembangunan gorong-gorong sepanjang jalan Cembul, ± 300 m, dengan kedalaman pengalian hampir 1 ½ m. Pembangunan ini dananya berkat bantuan dari program pemerintah PNPM Mandiri di tambah dengan swadaya masyarakat. Namun danannya masih belum mencukupi seperti yang telah dianggarkan oleh pihak panitia. Untuk menanggulangi kekurangan dana tersebut panitia beserta ketua RW akan berupaya mengerahkan warganya untuk bergotong royong dalam pelaksanaan nya nanti.