Masih pagi. Kira-kira waktu telah menunjukkan pukul 06.00 saya sudah berangkat bekerja ke kantor yang letaknya di Bandung Utara. Cukup jauh dalam jarak ± 14 km dan apabila ditempuh dengan sepeda motor keluaran tahun 1982 bisa mencapai hampir 1 jam lebih. Hambatan di jalanpun pasti ada, terutama macet atau jalannya kebanjiran. Maklum sekarang sedang musim hujan.
Rumah saya di Bandung Selatan, tentunya para pembacapun sudah memaklumi karena Bandung Selatan rawan banjir. Berbagai media baik cetak maupun elektronik hampir setiap hari menayangkan keadaan bajir yang sedang melanda di beberapa pelosok kota maupun Kabupaten Bandung. Terutama daerah Cieunteung, Ciputat dan Andir hampir setiap musim penghujan terkena banjir. Bagaimanapun tidak Bandung selatan yang datarannya rendah, disitu terdapat sungai Citarum yang menjadi pusat pembuangan air dari berbagai pelosok. Sungainya menjadi dangkal disertai sampah yang tidak bisa terkendalikan karena buruknya budaya masyarakat membuang sampah ke sungai, masih lagi ditambah pembuangan limbah pabrik yang sembarangan. Sudah cukup beratlah penderitaan sungai yang kita cintai ini untuk menanggung berbagai persoalan. Akibatnya air meluap kemana-kemana, membanjiri rumah penduduk yang berada tidak jauh dari sungai Citarum.
Cerita ini akan saya kembalikan ke awal, karena judulnya adalah kebaikan hati seorang petugas Dishub (Dinas Perhubungan) yang ditugaskan di pertigaan Jalan terusan Cibaduyut Cangkuang. Awalnya yang tadi ketika saya berangkat kekantor selalu masih pagi karena sering macet terutama di Jemabatan II Rancamanyar, Jalan Sayuran, di pertigaan Cangkuang , pertigaan Kopo Permai, dan pertigaan Taman Cibaduyut Indah (TCI). Kemacetan yang paling parah terjadi di Jembatan II Rancamanyar pada waktu air sungai meluap. Kemacetan dari jam 07.00 pagi sampai jam 11.00 siang.
Nah, karena saya diburu-buru waktu, khawatir kesiangan datang di kantor, saya berangkat menggunakan motor yang belum di service dan sering dipakai pada musim banjir. Waktu berada di pertigaan jalan cangkuang tiba-tiba motor mendadak tidak jalan alis mogok. Berbagai upaya telah saya lakukan diantaranya menambah bensin, membuka busi, tetapi motor si “Dukun” ini (sebutan motor saya karena sudah tua) tidak bisa jalan. Hati panik dan bercampur bingung. Mana masih pagi, bengkel belum pada buka. Keringatpun semakin deras membasahi baju dan kening. Dalam keadaan panik dan bingung ini karena disitu saya telah menghabiskan waktu satu jam, tiba-tiba dari belakang saya ada seseorang yang menghampiri. Ternyata seorang petugas Dishub Kabupaten Bandung yang selalu bertugas di pertigaan Jalan Cangkuang. Dengan ramah sekali petugas itu menawarkan jasanya untuk membuka busi motor. Padahal telah dibuka beberapa kali. “oh, pak ieu mah busina kedah dibersihan, margi tos kotor , rupina ieu teh sering kalebetan cai, sok ku abdi urang buka deui “. Dengan teliti sekali petugas ini memperhatikan busi motor, diolesi dengan bensin, dihampelas lalu dipasangkan kembali. “Tah, ayeuna mah moal mogok deui geura”. Si petugaspun menghidupkan beberapa kali motor saya. Dan Alhamdullilah motor saya bisa hidup kembali dan akhirnya bisa sampai ke kantor walaupun kesiangan.
Saya merasa kahutangan budi ku si bapa petugas yang namanya tertera pada name tagnya Djonih petugas DISHUB Kabupaten Bandung, yang umurnya kira-kira sudah mencapai lima puluhtahunan.
“ Hatur nuhun pisan, pak!”, kata saya sambil meninggalkan pak Djonih yang terus ngeloyor lagi untuk bertugas mengatur jalannya lalu lintas yang sedang macet. Saya bersyukur dan mendoakan pada pak Djonih dan keluarga mudah-mudahan dilindungi, amal kebaikannyapun bisa dibalas oleh Allah SWT, dan bisa menjadi contoh dan tauladan bagi petugas-petugas lainnya untuk menolong pengendara speda motor yang sedang kebingungan karena motornya mogok ditengah perjalanan. Wilujeng tugas, pak Djonih. (Dikdik Suhendi)
kebaikan hati seseorang akan berbalas dengan kebaikan jg pastinya..^_~